*

Berdasarkan pengamatan Bizteka-CCI selama lima tahun lalu, pada transaksi perdagangan Indonesia berdasarkan aktivitas Impor-Ekspor yang dicatat oleh BPS, terutama untuk Industri Migas (Minyak dan Gas bumi) selalu mengalami kondisi deficit. Namun jika dilihat dari transaksi perdagangan khusus Gas Bumi pada periode yang sama sangat berlawanan, yaitu selalu dalam kondisi surplus. Hal ini menunjukan bahwa kondisi deficit perdagangan Minyak bumi sangat memberatkan perdagangan internasional Indonesia secara menyeluruh terutama terjadinya penggerogotan perolehan devisa dari perdagangan Gas Bumi selama ini.

Seperti diketahui bahwa sector Migas, pada tahun 2017 melakukan impor sekitar USD 24,3 Milyar dan ekspor hanya sekitar USD15,7 Milyar berarti terjadi deficit sebesar USD 8,6 Milyar. Padahal untuk transaksi perdagangan Gas bumi saja, saat itu masih mengalami surplus sekitar USD 656 juta, berarti deficit perdagangan sector Minyak bumi yang terjadi pada tahun 2017 tersebut mengalami deficit sekitar USD 9,2 Milyar.

Untuk tahun selanjutnya deficit perdagangan produk Migas ini terus berlangsung hingga tahun 2021 lalu yang mencapai USD 13,3 Milyar, padahal perdagangan Gas bumi sendiri surplus sekitar USD 7,5 Milyar. Kondisi tahun 2021 tersebut menggambarkan bahwa transaksi perdagangan Indonesia untuk sector Minyak bumi saja telah mengalami deficit USD 20,8 Milyar.

Melihat kondisi perdagangan internasional sector Migas yang selalu deficit tersebut menunjukkan bahwa penggerogotan devisa oleh kondisi perdagangan Minyak bumi Indonesia selama lima tahun lalu sangat memberatkan perdagangan internasional Indonesia secara keseluruhan. Selama tahun 2021 surplus perdagangan Indonesia mencapai USD 35,3 Milyar padahal deficit sector Minyak bumi mencapai sekitar USD 20,8 Milyar, sehingga tahun 2021 telah terjadi penggerogotan devisa oleh sector Minyak bumi sekitar 37%. Apalagi jika diakumulasi selama lima tahun lalu, maka penggerogotan devisa oleh kondisi perdagangan Minyak bumi yang terus defisi telah mencapai sekitar 59% dari devisa perdagangan tahun 2017 sampai dengan 2021. Kondisi ini sangat memberatkan perdagangan internasional Indonesia jika terus berlarut-larut.

Melihat kinerja perdagangan Gas Bumi selama lima tahun lalu yang masih kondisi surplus, maka Bizteka tertarik untuk mengulas lebih lanjut akan hal ini, yaitu dengan menampilkan Profil Industri pada Bizteka edisi Juni 2022 dengan tema Prospek Industri Dan Pasar Gas Bumi di Indonesia”. Kajian ini diharapkan akan bermanfaat bagi investor yang akan terjun di sector industry ini.

 

 

Send your message
1
Hi friend....
Maybe we can help you ?