Select your Top Menu from wp menus

Importir Kapas Terbesar di Dunia

Indonesia tercatat sebagai salah satu importir kapas terbesar di dunia. Sekitar 650 ribu ton lebih kapas/tahun (99,2%) diimpor dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan nasional, khususnya untuk bahan baku kain.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ke  pala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK), Dr. Henri Bastaman pada Press Tour BLI KLHK di Yogyakarta.

Henri menjelaskan, saat ini terdapat kurang lebih 460 peneliti BLI KLHK di seluruh Indonesia, yang aktif dalam menghasilkan inovasi baru bidang LHK. Berbagai inovasi telah dihasilkan, mulai dari penelitian ulat sutera unggul, pengembangan minyak kayu putih, energi dari bahan bakar nabati, hingga Forensik DNA guna mengatasi kejahatan lingkungan dan kehutanan.

Salah satu inovasi BLI KLHK adalah pengembangan jenis hibrid ulat sutera produktivitas tinggi, Pusprohut Single Cross (PS 01) dan jenis murbei unggul (SULI 01), yang dimulai sejak tahun 2013. Tantangan di Indonesia saat ini adalah masih rendahnya produksi kokon. Produksi kokon di Indonesia rata-rata 25,03 kg/boks (satu boks berisi 25 ribu telur), masih tertinggal jauh dibandingkan Tiongkok yang produksi kokon mencapai 39,97 kg/boks.

Dengan adanya jenis hibrid ulat sutera dan murbei unggul sebagai pakannya, diharapkan dapat menghasilkan benang berkualitas untuk mengatasi kebutuhan bahan baku kain di Indonesia, serta mengurangi impor kapas. Selama ini kualitas kokon yang dihasilkan petani belum memenuhi kriteria kokon yang diinginkan oleh pengrajin, sehingga masih dilakukan impor benang sebagai bahan baku kain. Jenis ulat sutera jenis-jenis tersebut sudah diaplikasikan di Jawa Barat, dan sentra-sentra pengembangan sutera binaan BLI. Peluang ke depannya, jenis hibrid ulat sutera PS 01 perlu segera dikomersialkan.

Perkembangan Impor Kapas

Volume impor kapas Indonesia dalam lima tahun terakhir (2012-2016) tumbuh rata-rata 2,66% pertahun, sementara dilihat dari sisi nilainya menurun rata-rata minus 4,5% pertahun. Impor tahun 2012 tercatat 615.101 ton meningkat terus hingga tahun 2014 menjadi 711.747 ton, kemudian turun menjadi 673.601 ton pada tahun 2015 dan meningkat tipis pada tahun 2016 menjadi 678.936 ton. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

 

 

Related posts


Warning: strpos(): Empty needle in /home/cciindon/public_html/ccinews/wp-content/plugins/tawkto-live-chat/tawkto.php on line 182