Rp500,000

Industri dan Pemasaran XYLENE di Indonesia
Jurnal Bisnis BIZTEKA/Maret/2020

In stock

Quantity

Product Description

Industri bahan kimia didalam negeri kini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Sektor industri kimia hilir mengeluhkan kekurangan bahan baku, yang masih banyak tergantung pada impor. Padahal bisa dikatakan Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi yang besar dalam sektor minyak dan gas bumi.

Melihat situasi inilah mendorong pemerintah mempercepat pembangunan industri petrokimia dalam negeri, terutama terhadap bahan kimia Xylene, dengan mengakuisisi PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) sebagai upaya untuk menguasai kilang TPPI secara penuh, serta meminta Pertamina untuk menghidupkan kilang aromatik TPPI.

Bahkan Pertamina-pun tidak tinggal diam dengan mengambil langkah strategis yang sama dilakukan pemerintah dengan melakukan aksi korporasi pembelian saham Tuban Petro senilai Rp 3,2 triliun. Keputusan ini dilakukan agar di tahun 2020 kilang aromatik dapat dioptimalkan, serta meningkatkan kemampuan kapasitas produk. Bukan hanya itu saja Pertamina pun tak segan – segan membangun kilang baru yakni New Grass Root Refinery (NGRR) Kilang Tuban. Kilang Tuban tersebut nantinya akan mampu memproduksi petrokimia seperti polypropylene sebanyak 1.205 ktpa, paraxylene 1.317 ktpa dan polyethylene 750 ktpa.

Pertanyaan apakah rencana tersebut dapat terwujud dan terealisasikan?, sehingga mampu memenuhi permintaan pasar, serta menekan laju impor bahan kimia xylene tersebut. Padahal untuk menghidupkan lini produksi memerlukan biaya tidak sedikit. Meskipun diketahui peluang pasar dibisnis petrokimia saat ini cukup besar sekitar Rp 40 – 50 triliun pertahun.

Melihat hal ini mendorong BIZTEKA untuk membahas lebih lanjut mengenai “Prospek Industri dan Pemasaran Bahan Kimia XYLENE di Indonesia”. Dalam laporan ini juga dibahas mengenai perkembangan suplai dan demand Xylene dipasar lokal, harga, proyeksi konsumsi serta peluang pasarnya dimasa mendatang.