Rp500,000

Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) & Progresnya di Indonesia

Clear
SKU: N/A.

Product Description

Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) & Progresnya di Indonesia
Pada edisi kali ini BIZTEKA – PT. CCI akan membahas lebih jauh mengenai potensi energi baru terbarukan dan progresnya di Indonesia hingga tahun 2015. Penulisan ini disusun berdasarkan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak-pihak yang tekait dengan industri ini, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah terkait seperti Kementerian ESDM, BPPT, LIPI, LAPAN, Badan Koordinasi Penanaman Modal serta bank data yang ada di CCI.

Meskipun usaha Pemerintah untuk mengembangkan energi baru terbarukan di Indonesia sudah lama dilakukan, akan tetapi hasilnya hingga tahun 2015 lalu masih sangat minim. Bahkan dibandingkan negara yang lebih kecil seperti Sri Lanka, Indonesia masih tertinggal jauh. Untuk itu pemerintah mulai gencar kembali mengembangkan energi non-fosil tersebut.

Menurut sumber Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral saat ini penggunaan energi baru terbarukan di Sri Lanka hampir mencapai 50 persen. Sementara di Indonesia penggunaan energi ramah lingkungan tersebut hanya sekitar 11 persen. Adapun target pada 2025 baru 23 persen dari seluruh total energi yang digunakan. Agar tujuan tersebut tercapai, sejak 2014 lalu, Kementerian Energi tidak memperlakukan pengembangan energi terbarukan sebatas lampiran kebijakan. Bahan bakar ini menjadi arus utama dalam kebijakan energi.

Untuk menggenjot energi baru terbarukan, pemerintah juga menerapkan beberapa kebijakan seperti perbaikan regulasi. Misalnya, Pemerintah juga berencana membentuk badan khusus energi terbarukan.

“Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) & Progresnya di Indonesia”
Diakui memang selama ini ada beberapa kendala dalam pengembangan energi baru terbarukan yakni teknologi dan pendanaan. Apalagi harga minyak dunia saat ini sedang rendah. Dengan harga minyak dunia sekitar US$ 30 per barrel, maka konsumsi energi, terutama listrik, secara ekonomi akan lebih murah menggunakan energi berbahan bakar fosil. Harga energi baru terbarukan yang lebih mahal membuat investasi energi baru terbarukan tidak menarik bagi investor. Namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan perubahan.

Harus diingat harga minyak yang rendah justru menyebabkan kegiatan eksplorasi menurun. Karena eksplorasi minim, penemuan cadangan baru juga akan turun. Berkurangnya jumlah cadangan minyak terbukti akhirnya mengakibatkan penurunan jumlah produksi.

Harga minyak yang rendah juga menyebabkan preferensi impor minyak mentah dan BBM lebih besar. Hal ini bisa menguras devisa dan membuat bangsa Indonesia lupa mengembangkan energi baru terbarukan. Di titik inilah bangsa Indonesia membutuhkan tekad kuat dan terobosan strategis agar pembangunan energi baru terbarukan tidak terus terabaikan.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) & Progresnya di Indonesia”

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!