
Properti di Indonesia dilaporkan stagnan, meskipun ada insentif dari pemerintah, daya beli menurun dan suku bunga kredit (KPR) tinggi membuat banyak orang menunda membeli rumah atau properti. Dengan demikian, banyak proyek perumahan atau apartemen besar kemungkinan terhambat, mengurangi aktivitas pembangunan baru, penjualan, dan investasi di sektor ini.
Penjualan mobil turun signifikan tahun ini: menurut asosiasi, penjualan otomotif turun 17,4% pada Q3 2025 dibanding tahun sebelumnya. Konsumsi semen, yang biasa jadi indikator aktivitas konstruksi dan pembangunan, juga melambat: penjualan semen tercatat turun 2,4% dalam 9 bulan pertama 2025. Kombinasi permintaan otomotif & konstruksi menurun menunjukkan bahwa sektor konstruksi, pembangunan perumahan & infrastruktur (khususnya proyek swasta) sedang lesu, yang berdampak ke produsen otomotif, semen, bahan bangunan, dsb.
Meskipun secara umum manufaktur masih memberikan kontribusi ke PDB, ada sub-sektor manufaktur yang melemah. Misalnya: industri furnitur, serta industri barang dari karet dan plastik, dilaporkan dalam kondisi kontraksi pada 2025. Sebagian tekanan berasal dari “banjir” impor barang murah yang membuat produk lokal kalah bersaing, sehingga banyak pabrik skala kecil-menengah kesulitan.

Faktor penyebab pelemahan: Menurunnya daya beli masyarakat, ketika ekonomi menantang, konsumen menahan pengeluaran non-esensial seperti properti, mobil, furnitur, barang konsumsi berat. Impor barang murah & persaingan global, produk impor dengan harga lebih kompetitif membuat industri lokal sulit bersaing, terutama di segmen furnitur, plastik, barang manufaktur ringan. Biaya produksi meningkat & ketidakpastian ekonomi global, biaya bahan baku, logistik, dan mata uang global yang fluktuatif membuat margin usaha menyempit, sulit untuk ekspansi atau bahkan bertahan. Perubahan pola permintaan & preferensi konsumen, misalnya orang menunda membeli mobil atau rumah, atau memilih barang non-fisik/layanan lain dibanding membeli furnitur/produk berat. Restrukturisasi industri & otomasi, di beberapa subsektor manufaktur, otomatisasi dan efisiensi menekan kebutuhan tenaga kerja, memperlemah kemampuan sektor itu menyerap tenaga kerja.

Pelemahan di sektor properti, otomotif, konstruksi, dan manufaktur ringan bisa menyebabkan pengurangan lapangan pekerjaan, terutama bagi pekerja di sektor informal atau pekerja pabrik/skala kecil-menengah. Konsentrasi pertumbuhan sekarang berpindah ke sektor-sektor yang lebih tangguh / adaptif, misalnya manufaktur subsektor tertentu, jasa, ekspor komoditas, dll. Bagi pelaku bisnis: perlu adaptasi, misalnya fokus ke produk niche, efisiensi biaya, kualitas ekspor, atau diversifikasi usaha agar tetap kompetitif.
