Permintaan styrene monomer di Indonesia menunjukkan tren kenaikan yang signifikan seiring dengan pertumbuhan sektor kemasan, otomotif, dan manufaktur. Senyawa kimia dasar ini yang menjadi bahan baku utama produk polystyrene, ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene), karet sintetis serta resin industri, semakin dibutuhkan dalam ekosistem industri nasional yang bergerak dinamis. Styrene Monomer sendiri berwujud cair, berwarna bening sedikit kekuningan, berbau tajam dan khas (seperti bau plastik atau bensin ringan), serta mudah menguap pada suhu ruang.
Permintaan styrene monomer Indonesia terus tumbuh sejalan dengan ekspansi industri petrokimia hilir. Proyeksi permintaan nasional pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 478.032 ton per tahun, mencakup kebutuhan domestik dan ekspor, menunjukkan skala pasar yang besar dan ruang pertumbuhan berkelanjutan. Konsumsi styrene itu sendiri berasal dari kebutuhan untuk lini produksi polystyrene, resin, dan turunan lain yang menyuplai berbagai sektor, mulai dari kemasan makanan dan minuman, komponen otomotif, peralatan elektronik, hingga produk konsumen lainnya. Proyeksi pertumbuhan permintaan styrene monomer yang disusun oleh lembaga riset industri juga memperlihatkan angka CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar sekitar 5,7% untuk periode 2024–2038, lebih tinggi dibanding beberapa produk petrokimia lain, yang mengindikasikan permintaan domestik yang kuat dan terus meningkat.
Beberapa faktor yang mengakselerasi permintaan styrene monomer di Indonesia: 1) Kemasan dan Produk Konsumen: Pertumbuhan sektor kemasan plastik untuk gelas minum, wadah makanan, serta produk rumah tangga menjadi salah satu pendorong utama kebutuhan styrene. 2) Otomotif dan Elektronik: Komponen interior kendaraan, casing elektronik, dan produk otomotif berbasis ABS juga mendukung naiknya konsumsi monomer ini. 3) Konstruksi dan Material Teknik: Resin dan material berbasis styrene digunakan dalam bahan bangunan dan pelapis teknik, menambah beragam aplikasi produk turunan.
Permintaan yang semakin kompleks ini sejatinya mencerminkan perluasan rantai nilai industri petrokimia, di mana styrene monomer tidak lagi terpandang sebagai komoditas tunggal, tetapi sebagai pendorong utama produksi bahan teknik dan komposit bernilai tambah tinggi.
