Permintaan caustic soda (NaOH) di Indonesia menunjukkan tren meningkat seiring pertumbuhan industri bahan kimia dasar dan hulu-hilir sektor manufaktur. Produk ini dikenal sebagai soda kaustik dan menjadi komponen penting dalam banyak proses industri, mulai dari pulp & paper, tekstil, deterjen, alumina, hingga pengolahan air.
Menurut laporan pasar terbaru, volume pasar caustic soda Indonesia mencapai sekitar 1,074,81 ribu ton pada 2024, dan diproyeksikan meningkat hingga 1,212,67 ribu ton pada 2033 dengan laju pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 1,35%. Permintaan yang terus bertumbuh ini didorong oleh:
- Industri pulp dan kertas yang membutuhkan NaOH dalam proses pemisahan serat dan pemutihan.
- Sector tekstil dan deterjen seperti sabun dan pembersih yang mengandalkan soda kaustik untuk saponifikasi dan proses finishing.
- Industri alumina yang memanfaatkan NaOH dalam tahap pemurnian mineral.
- Pengolahan air serta kimia dasar lain yang berkembang sejalan dengan industrialisasi nasional.
Meski demikian, beberapa analisis menunjukkan bahwa pasar caustic soda dalam bentuk larutan (liquid soda) di Indonesia mengalami tren penurunan (nilai/volume tertentu) pada 2024 setelah sebelumnya tumbuh, mengindikasikan dinamika permintaan yang masih berfluktuasi terkait kondisi produksi dan distribusi.
Permintaan yang kuat mendorong upaya perluasan kapasitas produksi domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Beberapa inisiatif penting antara lain:
- Perluasan fasilitas klor-alkali di pabrik PT Asahimas Chemical di Cilegon, Banten — dengan kapasitas peningkatan produksi soda kaustik yang signifikan.
- Rencana pembangunan pabrik caustic soda berskala besar oleh konsorsium antara PT Chandra Asri Petrochemical dan Indonesia Investment Authority (INA), melalui pembangunan unit chlor-alkali yang direncanakan memproduksi sekitar 400.000 ton per tahun solid caustic soda serta 500.000 ton ethylene dichloride. Proyek ini merupakan bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri petrokimia dalam negeri.
Selain itu, upaya BUMN seperti MIND ID bersama Freeport Indonesia juga dikaji untuk mengembangkan produksi NaOH guna memenuhi kebutuhan industri aluminium dan bahan baku penting lainnya, sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan impor.
Para analis industri menyatakan bahwa permintaan caustic soda tidak hanya didorong oleh pertumbuhan volume sektor manufaktur, tetapi juga oleh:
- Peningkatan investasi di industri kimia hilir, karena NaOH merupakan bahan dasar untuk banyak turunan kimia.
- Permintaan untuk pengolahan air bersih dan limbah industri yang makin ketat standar-nya.
- Kebutuhan pada industri smelter dan hilirisasi mineral, yang turut serta membutuhkan alkali dalam proses produksinya.
Tantangan utama tetap pada ketergantungan pasokan impor dan keterbatasan kapasitas produksi lokal yang belum memadai untuk sepenuhnya memenuhi kebutuhan domestik. Meski ada rencana investasi besar dan perluasan kapasitas, realisasinya memerlukan waktu dan dukungan kebijakan yang konsisten dari pemerintah serta kolaborasi sektor swasta.
Para pengamat industri menyimpulkan bahwa dengan realisasi proyek chlor-alkali besar dan kebijakan yang mendukung, Indonesia berpotensi menjadi pemain penting di pasar regional caustic soda, tidak hanya sebagai konsumen tetapi juga sebagai pemasok untuk kawasan Asia Tenggara di masa mendatang.
