Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di Jakarta dan menunjukkan kecenderungan meningkat baik dari sisi frekuensi maupun dampak. Hasil analisis menunjukkan bahwa banjir Jakarta bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan interaksi kompleks antara curah hujan ekstrem, penurunan muka tanah, degradasi daerah resapan, serta sistem drainase yang tidak mampu mengikuti laju urbanisasi.
1. Jakarta merupakan salah satu kota pesisir dengan tingkat kerentanan banjir tertinggi di Asia Tenggara. Jakarta berada di wilayah tropis dengan intensitas hujan tinggi, terutama saat musim hujan dan fenomena iklim seperti La Niña. Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat (short-duration high-intensity rainfall) meningkatkan limpasan permukaan (surface runoff) secara drastis.
2. Sebagian besar wilayah Jakarta berada pada ketinggian 0–5 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan sangat landai (topografi rendah dan datar). Kondisi ini menyebabkan: ketergantungan tinggi pada pompa dan kanal buatan, aliran air lambat, dan air mudah menggenang.
3. Sebagai kota pesisir, Jakarta mengalami pasang laut yang dapat menghambat pembuangan air ke laut (pengaruh pasang laut/rob), terutama di wilayah utara. Ketika hujan bersamaan dengan pasang tinggi, kapasitas air hujan yang seharusnya mengalir ke laut menjadi tertahan, air lebih cepat meluap dan menyebabkan banjir
4. Penurunan tanah di Jakarta mencapai 5–15 cm per tahun (land subsidence) di beberapa wilayah, terutama akibat: pengambilan air tanah berlebihan, beban bangunan berat, konsolidasi alami tanah aluvial. Akibatnya: elevasi daratan semakin rendah dari muka laut, gravitasi alami untuk mengalirkan air melemah, sistem drainase kehilangan efektivitas desain awal.
5. Jakarta berdiri di atas tanah aluvial muda yang: berdaya serap rendah, mudah jenuh air, tidak ideal untuk infiltrasi alami.
6. Hilangnya daerah resapan air. Urbanisasi masif menyebabkan: konversi lahan hijau menjadi beton dan aspal, berkurangnya infiltrasi air hujan, meningkatnya limpasan permukaan (aliran air yang mengalir di permukaan tanah menuju saluran, sungai, atau daerah yang lebih rendah) hingga >70%. Secara ilmiah, kota dengan tutupan kedap air tinggi akan mengalami banjir lebih cepat meskipun hujan tidak ekstrem.
7. Sistem drainase yang tidak adaptif. Sebagian besar sistem drainase Jakarta: dirancang berdasarkan data hujan lama, tidak memperhitungkan urbanisasi dan perubahan iklim, mengalami sedimentasi dan penyempitan. Drainase menjadi bottleneck, bukan solusi.
8. Sungai sebagai saluran limbah. Banyak sungai di Jakarta: mengalami pendangkalan, menyempit akibat bangunan ilegal, terhambat sampah. Hal ini menurunkan kapasitas tampung sungai secara signifikan.
9. Fragmentasi pengelolaan wilayah. Jakarta bergantung pada daerah hulu (Bogor, Depok, Bekasi), tetapi tata ruang lintas wilayah tidak terintegrasi serta alih fungsi lahan di hulu meningkatkan debit limpasan ke Jakarta
10. Pendekatan infrastruktur yang terlalu struktural. Selama bertahun-tahun, solusi banjir berfokus pada: kanal, pompa, tanggul. Pendekatan ini kurang diimbangi dengan: solusi berbasis alam (nature-based solutions), pengendalian air tanah, dan restorasi ruang hijau.
Banjir Jakarta merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor alam, geologi, aktivitas manusia, dan tata kelola perkotaan. Kecepatan terjadinya banjir menunjukkan bahwa kapasitas adaptasi kota telah terlampaui. Tanpa perubahan paradigma dari pendekatan teknis semata menuju pendekatan ekologis dan tata kelola terpadu, banjir akan tetap menjadi risiko kronis Jakarta. Kebijakan yang bisa ditinjau ulang: Pengendalian air tanah secara ketat, Restorasi ruang hijau dan daerah resapan, Modernisasi drainase berbasis data iklim terbaru, Integrasi tata ruang hulu–hilir.
