Hilirisasi mineral kembali menjadi salah satu motor utama investasi dan transformasi industri Indonesia pada 2026. Pemerintah tidak lagi melihat hilirisasi sekadar sebagai kebijakan untuk menghentikan ekspor bahan mentah, tetapi sebagai strategi membangun rantai nilai industri di dalam negeri, mulai dari pengolahan mineral, pemurnian, manufaktur antara hingga produk turunan bernilai tambah tinggi. Pada Semester I 2026, realisasi investasi nasional mencapai Rp1.010,6 triliun, dengan investasi hilirisasi menyumbang Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7% dari total investasi. Hilirisasi mineral, terutama bauksit, nikel, tembaga, besi-baja, dan pasir silika, menjadi salah satu kontributor utama.
Menariknya, komposisi hilirisasi mineral mulai menunjukkan pergeseran dari dominasi nikel menuju komoditas yang lebih beragam. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat bahwa pada kuartal II 2026, bauksit untuk pertama kalinya menjadi komoditas hilirisasi terbesar, didorong oleh pembangunan sejumlah proyek pengolahan yang dilakukan baik oleh investor domestik maupun asing. Perkembangan ini menunjukkan bahwa agenda hilirisasi Indonesia semakin melebar, tidak hanya berpusat pada ekosistem nikel dan baterai kendaraan listrik, tetapi juga mulai memperkuat rantai nilai aluminium, tembaga, besi-baja, serta mineral kritis lainnya.
Dari sisi proyek, hilirisasi mineral kini mulai membentuk ekosistem industri yang lebih terintegrasi dan tersebar di luar Pulau Jawa. Kementerian ESDM mencatat realisasi investasi hilirisasi mineral mencapai sekitar Rp206,5 triliun pada Semester I 2026, sementara terdapat 26 proyek hilirisasi strategis nasional yang sedang dikembangkan dengan nilai investasi sekitar Rp225 triliun. Persebaran investasi juga semakin mengikuti lokasi sumber daya; pada Semester I 2026, realisasi investasi di luar Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2% dari total nasional. Kondisi ini berpotensi mendorong terbentuknya kawasan industri baru di dekat sumber mineral sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah penghasil.
Namun, tantangan hilirisasi 2026 semakin bergeser dari sekadar membangun smelter menuju bagaimana menciptakan produk hilir yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Pemerintah menghadapi kebutuhan untuk memastikan ketersediaan energi, infrastruktur, teknologi pengolahan, tenaga kerja terampil, serta kepastian regulasi agar investasi tidak berhenti pada tahap pemurnian bahan tambang. Di sisi lain, kebijakan sektor mineral juga terus dievaluasi, termasuk rencana penyesuaian tarif PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) untuk sejumlah mineral seperti nikel, tembaga, emas, timah dan perak yang masih dikaji pemerintah setelah mempertimbangkan masukan pelaku usaha.
Arah berikutnya adalah memperluas hilirisasi dari mineral ke industri bernilai tambah yang lebih tinggi. Pada September 2026, pemerintah mulai menegaskan bahwa agenda hilirisasi ke depan tidak akan hanya bertumpu pada komoditas pertambangan, tetapi juga mencakup semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa dan rumput laut. Pergeseran ini penting karena menunjukkan bahwa hilirisasi mulai diposisikan sebagai strategi industrialisasi yang lebih luas, dengan tujuan membangun kapasitas manufaktur domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas primer.
Tabel – 1. Perkembangan Hilirisasi Indonesia per 2026
| Komoditas | Posisi hilirisasi Indonesia 2026 | Level |
| Nikel | Tambang → smelter → NPI/ferronickel → nickel matte/MHP → bahan baku baterai | Sudah maju |
| Bauksit | Bauksit → alumina → aluminium | Sedang berkembang |
| Tembaga | Konsentrat → katoda tembaga → produk turunan | Berkembang |
| Besi & baja | Bijih/bahan baku → produk baja | Sudah berkembang |
| Emas | Tambang → pemurnian → bullion/logam mulia | Berkembang |
| Timah | Tambang → refined tin → produk turunan | Berkembang |
| Pasir silika | Silika → produk industri/high-purity silica | Tahap awal–berkembang |
| Produk akhir teknologi tinggi | Mineral → komponen EV/electronics/semiconductor | Masih terbatas |
