Indonesia semakin serius mengembangkan industri ammonia, tidak hanya sebagai bahan baku utama pupuk tetapi juga sebagai komoditas energi rendah karbon dan pendorong transisi energi bersih. Perhatian ini muncul di tengah tren global yang menggeser penggunaan ammonia konvensional menuju ammonia hijau (green ammonia) dan biru (blue ammonia) yang lebih ramah lingkungan serta berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Salah satu langkah paling menonjol adalah proyek hybrid green ammonia pertama di dunia yang akan dibangun oleh PT Pupuk Indonesia melalui anak usahanya Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Aceh. Proyek ini dinamakan GAIA, yang memanfaatkan pabrik ammonia existing namun akan menghasilkan ammonia hijau dengan menggunakan hidrogen hijau (green hydrogen) yang diproduksi dari elektrolisis air menggunakan energi terbarukan. Dalam model hybrid ini, pabrik tetap dapat menghasilkan ammonia dari gas alam sekaligus ammonia hijau, sehingga fleksibel dan lebih ramah lingkungan sekaligus memperkuat rantai pasok kimia domestik.
Pupuk Indonesia juga membentuk kemitraan strategis melalui Joint Development Agreement (JDA) dengan perusahaan Jepang seperti Toyo Engineering Corporation dan ITOCHU Corporation untuk memasang perangkat produksi green ammonia di fasilitas existing PIM. Kerja sama ini ditujukan untuk memperluas kapasitas ammonia hijau dan mengembangkan pemasaran ammonia hijau sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan di pasar global, termasuk untuk kebutuhan marine bunkering.
Selain itu, PT Pupuk Kujang di Karawang menjadi pelopor uji produksi ammonia hijau di Indonesia, memproses green hydrogen dari PLN Indonesia Power menjadi green ammonia. Uji coba ini dipandang sebagai tonggak penting dalam mendukung transisi energi bersih dan ikut mengurangi emisi karbon. Lebih lanjut, ammonia hijau yang diproduksi diuji coba sebagai co-firing fuel di PLTU Labuan, Banten, di mana ammonia dicampurkan dengan batu bara untuk menggerakkan pembangkit listrik. Uji coba co-firing 3 persen menggunakan 50 ton ammonia berlangsung stabil dan berpotensi mengurangi emisi CO₂ sekitar 70.640 ton per tahun, sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) 2060 Indonesia.
Di sisi industri pupuk konvensional, ammonia tetap menjadi bahan baku penting untuk produksi urea, ZA (ammonium sulfate) dan pupuk berbasis nitrogen lain. Sebagai contoh, PT Pupuk Kalimantan Timur melaporkan realisasi produksi pupuk yang termasuk ammonia mencapai 396.904 ton hingga Februari 2025, sebagai bagian dari dukungan terhadap kebutuhan pupuk nasional.
Selain itu, pembangunan fasilitas baru di sektor ammonia juga terus bergerak. Sebuah pabrik blue ammonia yang memanfaatkan gas alam dan teknologi penangkapan karbon direncanakan dibangun di Teluk Bintuni, Papua Barat mulai 2026 dengan investasi sekitar USD 1,2 miliar. Pabrik ini akan mendukung transisi energi bersih sekaligus memperluas basis industri ammonia di Indonesia.
Dengan kombinasi strategi industrialisasi ammonia konvensional dan inovasi ammonia hijau serta biru, Indonesia berharap dapat memperkuat ketahanan pangan melalui produksi pupuk dalam negeri, sekaligus menjadi bagian dari rantai nilai energi rendah karbon global. Pengembangan ammonia kini tidak lagi dilihat hanya sebagai komoditas industri kimia, tetapi juga sebagai bahan bakar masa depan, bahan baku energi hijau, dan peluang investasi strategis bagi perekonomian nasional.
