Permintaan sulfuric acid (H₂SO₄) di Indonesia terus menunjukkan tren penguatan dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya aktivitas industri pupuk, pertambangan, dan pengolahan mineral logam. Asam sulfat menjadi salah satu bahan kimia dasar paling strategis bagi industri nasional, baik dari sisi volume maupun perannya dalam rantai pasok hilirisasi. Sulfuric acid digunakan secara luas sebagai bahan baku maupun bahan penunjang proses industri, mulai dari produksi pupuk fosfat, pemurnian logam, pengolahan nikel, hingga industri kimia dan energi.
Sektor pupuk tetap menjadi penyerap terbesar sulfuric acid di Indonesia. Asam sulfat merupakan bahan kunci dalam:
- produksi asam fosfat
- pupuk fosfat seperti DAP, MAP, dan NPK
- pengolahan batuan fosfat
Seiring meningkatnya kebutuhan pupuk nasional untuk mendukung ketahanan pangan, konsumsi sulfuric acid di sektor ini relatif stabil dan cenderung meningkat, terutama di sentra industri pupuk nasional.
Permintaan sulfuric acid juga terdongkrak oleh kebijakan hilirisasi mineral yang agresif, khususnya pada komoditas:
- nikel
- tembaga
- emas
Dalam industri pertambangan, sulfuric acid digunakan untuk:
- heap leaching dan pressure leaching
- pemurnian logam
- proses HPAL (High Pressure Acid Leach) pada nikel laterit
Berkembangnya smelter dan proyek pengolahan mineral di Sulawesi dan Maluku menjadikan sulfuric acid sebagai bahan kimia proses yang tidak tergantikan, dengan kebutuhan dalam volume besar dan pasokan berkelanjutan.
Selain pupuk dan tambang, sulfuric acid juga digunakan dalam berbagai sektor manufaktur, antara lain:
- industri petrokimia
- pengolahan minyak dan gas
- industri baterai dan aki
- tekstil dan pulp & paper
- pengolahan air dan limbah industri
Pertumbuhan industri baterai, termasuk ekosistem kendaraan listrik, turut memberikan kontribusi tambahan terhadap permintaan asam sulfat, terutama untuk proses kimia penunjang dan pemurnian bahan baku.
Dari sisi pasokan, kebutuhan sulfuric acid di Indonesia dipenuhi melalui:
- produksi domestik, terutama dari pabrik pupuk dan smelter
- impor, khususnya untuk wilayah dan proyek tertentu
Beberapa smelter logam bahkan menghasilkan sulfuric acid sebagai produk samping (by-product) dari proses peleburan, yang kemudian dimanfaatkan secara internal atau dijual ke pasar domestik. Namun, distribusi dan logistik menjadi tantangan karena sulfuric acid merupakan bahan berbahaya dan korosif, sehingga tidak mudah dipindahkan jarak jauh.
Tingginya permintaan sulfuric acid juga diiringi tantangan serius, antara lain:
- keterbatasan fasilitas penyimpanan
- biaya logistik tinggi
- standar keselamatan transportasi yang ketat
- kebutuhan investasi tangki dan pelabuhan khusus
Karena sifatnya yang berbahaya, pasokan sulfuric acid cenderung bersifat regional, dekat dengan pusat konsumsi industri.
Analis industri memproyeksikan permintaan sulfuric acid di Indonesia akan tetap kuat dalam jangka menengah hingga panjang, ditopang oleh:
- keberlanjutan kebijakan hilirisasi mineral
- kebutuhan pupuk nasional
- ekspansi industri kimia dan energi
- pertumbuhan sektor baterai dan kendaraan listrik
Namun, stabilitas pasokan dan efisiensi distribusi akan menjadi faktor kunci dalam menjaga daya saing industri pengguna sulfuric acid di dalam negeri.
