Di tengah tekanan global terhadap emisi karbon, ketergantungan pada minyak bumi, dan tuntutan industri menuju ekonomi sirkular, istilah bio naphtha dan bio-based feedstock menjadi semakin penting dalam industri kimia dan petrokimia dunia. Jika dahulu naphtha hampir sepenuhnya berasal dari hasil pengolahan minyak mentah fosil, kini industri mulai beralih pada sumber yang lebih berkelanjutan: biomassa, limbah organik, minyak nabati bekas, hingga residu pertanian. Perubahan ini bukan sekadar tren lingkungan, melainkan strategi bisnis jangka panjang. Ketika harga minyak global bergejolak akibat konflik geopolitik, termasuk ketegangan Timur Tengah pada 2026, banyak produsen mulai melihat bahan baku berbasis hayati sebagai solusi stabilitas pasokan sekaligus dekarbonisasi industri. Bahkan laporan terbaru menyebut bio-based feedstocks semakin kompetitif dibanding petrokimia konvensional karena lonjakan harga minyak global.
Bio naphtha adalah naphtha yang diproduksi dari sumber terbarukan (renewable feedstocks), bukan dari crude oil fosil. Secara fungsi, bio naphtha memiliki peran yang sama dengan conventional naphtha, yaitu sebagai bahan baku utama untuk steam cracker dalam menghasilkan Ethylene, Propylene, dll. Produk-produk tersebut kemudian menjadi dasar pembuatan Polyethylene, Polypropylene, PVC, dll. Artinya, bio naphtha memungkinkan industri tetap memproduksi plastik dan bahan kimia yang sama, tetapi dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah. Inilah yang disebut sebagai drop-in feedstock, yaitu bahan baku yang bisa langsung digunakan pada fasilitas eksisting tanpa perlu mengganti seluruh infrastruktur pabrik.
Bio-based feedstock adalah seluruh bahan baku industri kimia yang berasal dari sumber biologis terbarukan, seperti: Vegetable Oils (Palm oil, Soybean oil, Rapeseed oil, dan Sunflower oil), Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah yang diproses ulang, Animal Fats, Agricultural Residues (bagasse, corn stover, rice husk, dan empty fruit bunch), Forestry Waste, Municipal Organic Waste, Algae-Based Feedstock, juga Waste Carbon / Carbon Recycling. S&P Global (perusahaan publik Amerika Serikat terkemuka yang menyediakan data, intelijen, peringkat kredit, dan analisis keuangan/komoditas kepada pasar modal dunia) pada Januari 2026 menyoroti meningkatnya minat terhadap “waste-carbon palm oil substitute” sebagai alternatif baru untuk menghasilkan bio-naphtha dan bahan baku SAF tanpa risiko deforestasi akibat ketergantungan pada palm oil konvensional.
Bagaimana Bio Naphtha Diproduksi? Ada beberapa jalur utama produksi:
- Hydrotreating / Hydroprocessing. Feedstock seperti: UCO, vegetable oils, animal fats diproses dengan hidrogen pada tekanan tinggi untuk menghasilkan hidrokarbon mirip naphtha. Ini adalah jalur paling umum saat ini.
- Gasification + Fischer-Tropsch. Biomassa padat dikonversi menjadi syngas lalu menjadi liquid hydrocarbons.
- Pyrolysis. Limbah biomassa dipanaskan tanpa oksigen menghasilkan bio-oil yang kemudian di-upgrade menjadi naphtha-range products.
- Alcohol-to-Olefins Pathway. Bioethanol dari tebu atau jagung diubah menjadi ethylene lalu menjadi polymer-grade feedstock. Contoh besar adalah Braskem yang memproduksi green polyethylene dari ethanol tebu dan memiliki kapasitas green ethylene sekitar 200.000 ton per tahun.
Mengapa Bio Naphtha Sangat Penting?
- Menurunkan Emisi Karbon. Bio naphtha secara signifikan mengurangi lifecycle greenhouse gas emissions dibanding fossil naphtha. Hal ini penting karena sektor petrokimia merupakan salah satu penyumbang emisi besar dunia.
- Mendukung Circular Economy. Limbah dapat diubah kembali menjadi bahan baku industri. Konsep: waste → feedstock → chemicals → products → recycling.
- Mengurangi Ketergantungan pada Minyak Fosil. Geopolitik global sangat memengaruhi harga naphtha. Ketegangan Timur Tengah 2026 kembali menunjukkan betapa rentannya supply chain berbasis fossil. Bio-feedstocks menjadi solusi diversifikasi.
- Memenuhi Target ESG dan Regulasi Global. Banyak brand global kini mensyaratkan: renewable content, low carbon plastics, traceable feedstocks, ISCC PLUS certification.
Meski menjanjikan, bio naphtha masih menghadapi hambatan besar:
- Harga Lebih Mahal. Bio naphtha masih lebih mahal dibanding fossil naphtha karena feedstock cost tinggi, skala produksi kecil, biaya sertifikasi. S&P Global juga menyebut sektor bio-chemicals masih menghadapi tantangan besar dalam cost competitiveness terhadap fossil-based products.
- Ketersediaan Feedstock Terbatas. Persaingan terjadi antara SAF (Sustainable Aviation Fuel), renewable diesel, green chemicals, food industry. Semua berebut feedstock yang sama.
- Sustainability Debate. Penggunaan palm oil dapat menimbulkan isu deforestation, biodiversity loss, land use change. Karena itu industri mulai beralih ke waste-based feedstocks.
- Infrastruktur dan Sertifikasi. Traceability sangat penting. Tanpa sertifikasi seperti ISCC PLUS, produk sulit diterima pasar global.
Berita Terkini 2026
- Indonesia Menghapus Bea Masuk Produk Plastik dan LPG untuk Industri Petrokimia. Pemerintah Indonesia mengumumkan penghapusan bea masuk untuk beberapa produk plastik dan LPG mulai Mei 2026 guna membantu produsen plastik yang mengalami kekurangan naphtha sebagai bahan baku utama. Kebijakan ini bertujuan menekan biaya produksi dan menjaga ketersediaan bahan baku industri. Ini menunjukkan betapa strategisnya isu feedstock bagi industri nasional.
- LG Chem Mulai Mengimpor Bio-Naphtha dari Malaysia. LG Chem menerima pengiriman pertama bio-naphtha bersertifikasi ISCC Plus dari EcoCeres Malaysia pada awal 2026. Total kontrak mencapai 4.000 ton untuk tahun 2026. Ini menjadi sinyal kuat bahwa Asia mulai serius pada renewable petrochemical feedstocks.
- SAF dan Bio-Naphtha Semakin Terhubung. Banyak refinery kini mendesain proses yang menghasilkan SAF, bio naphtha, renewable diesel secara simultan. Bio-naphtha bahkan disebut sebagai chemical co-product yang sangat penting agar proyek SAF tetap ekonomis.
Pasar bio-naphtha global diproyeksikan tumbuh sangat cepat. Beberapa laporan memperkirakan ukuran pasar mencapai sekitar USD 3–8 miliar pada 2026–2034 dengan CAGR dua digit. Driver utamanya dekarbonisasi industri, regulasi karbon global, sustainable packaging, green polymers, circular plastics, demand dari brand owners global. Ke depan, perusahaan seperti Neste, UPM Biofuels, Eni, TotalEnergies (produsen top tier bio-naphtha saat ini), SABIC, LyondellBasell, BASF (user top tier bio-naphtha saat ini), Braskem, LG Chem akan menjadi pemain utama transformasi ini.
Bio naphtha bukan sekadar alternatif naphtha biasa. Ia adalah jembatan antara industri petrokimia tradisional dan masa depan industri kimia rendah karbon. Dengan kemampuan menjadi drop-in feedstock, bio naphtha memungkinkan transformasi besar tanpa harus membangun ulang seluruh pabrik dunia. Tantangannya memang besar: harga, feedstock, sertifikasi, dan skala produksi, tetapi arah industrinya sudah sangat jelas: Masa depan petrokimia tidak lagi hanya berbasis fossil, tetapi berbasis carbon-smart feedstock. Dan dalam transformasi itu, bio naphtha akan menjadi salah satu pemain utama.
