Perkembangan Bioavtur di Indonesia dan Dunia

Bioavtur sebagai bagian dari Sustainable Aviation Fuel (SAF) merupakan alternatif strategis dalam upaya dekarbonisasi sektor penerbangan. Indonesia, sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia, memiliki potensi besar dalam pengembangan bioavtur berbasis crude palm oil (CPO). menunjukkan Meskipun ketersediaan bahan baku relatif melimpah, namun pengembangan produksi masih terbatas akibat kendala teknologi, biaya, dan regulasi. Di sisi lain, permintaan domestik masih rendah, tetapi berpotensi meningkat seiring tekanan global terhadap pengurangan emisi karbon dan komitmen industri penerbangan internasional. Dengan demikian, diperlukan kebijakan yang terintegrasi untuk mendorong keseimbangan antara supply dan demand bioavtur di Indonesia.

Sektor penerbangan merupakan salah satu kontributor signifikan terhadap emisi gas rumah kaca global. Upaya untuk menurunkan emisi di sektor ini menghadapi tantangan struktural karena tingginya kebutuhan energi dan keterbatasan alternatif bahan bakar. Dalam konteks tersebut, bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi solusi yang semakin mendapat perhatian. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam pengembangan bioavtur berbasis kelapa sawit. Produksi crude palm oil (CPO) yang tinggi memberikan peluang besar untuk hilirisasi menjadi bahan bakar penerbangan ramah lingkungan. Selain itu, komitmen global yang diinisiasi oleh International Air Transport Association dalam mencapai target net zero emission pada tahun 2050 semakin memperkuat urgensi pengembangan bioavtur.

Dari sisi supply, Indonesia memiliki keunggulan struktural berupa ketersediaan bahan baku yang melimpah. Produksi CPO yang tinggi memungkinkan alokasi bahan baku untuk berbagai kebutuhan, termasuk bioavtur. Proses konversi CPO menjadi bioavtur umumnya menggunakan teknologi hydroprocessed esters and fatty acids (HEFA), yang menghasilkan bahan bakar dengan karakteristik serupa avtur konvensional. Namun demikian, kapasitas produksi bioavtur di Indonesia masih terbatas. Pengembangan kilang khusus SAF membutuhkan investasi besar dan teknologi canggih. Inisiatif pengembangan telah dilakukan oleh Pertamina melalui uji coba produksi bioavtur di kilang domestik. Meskipun demikian, skala produksi belum mencapai tahap komersialisasi penuh. Selain itu, terdapat kompetisi penggunaan CPO antar sektor, seperti industri pangan, biodiesel, dan oleokimia. Hal ini menyebabkan alokasi bahan baku untuk bioavtur harus mempertimbangkan prioritas nasional dan dinamika pasar.

Dari sisi demand, konsumsi bioavtur di Indonesia masih relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, antara lain harga bioavtur yang lebih tinggi dibandingkan avtur berbasis fosil, serta belum adanya kebijakan mandatori penggunaan SAF di sektor penerbangan domestik. Namun, secara global, permintaan bioavtur menunjukkan tren peningkatan. Maskapai penerbangan internasional mulai mengadopsi SAF sebagai bagian dari strategi keberlanjutan. Tekanan regulasi dan komitmen pengurangan emisi karbon mendorong peningkatan permintaan di masa depan. Dalam konteks Indonesia, potensi demand lebih besar justru berasal dari pasar ekspor. Negara-negara maju yang telah menetapkan target penggunaan SAF menjadi peluang bagi Indonesia untuk memasok bioavtur berbasis sawit.

Interaksi antara supply dan demand bioavtur di Indonesia saat ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan. Supply potensial yang tinggi belum diimbangi dengan demand domestik yang kuat. Kondisi ini mencerminkan tahap awal perkembangan industri bioavtur.

Dalam jangka panjang, peningkatan demand diperkirakan akan terjadi seiring:

  • penerapan regulasi lingkungan yang lebih ketat
  • pengembangan teknologi produksi yang lebih efisien
  • penurunan biaya produksi bioavtur

Dengan demikian, penguatan kebijakan hilirisasi dan insentif ekonomi menjadi kunci dalam menciptakan keseimbangan pasar.

Negara yang sudah menggunakan bioavtur (SAF) secara relatif konsisten adalah Amerika Serikat (Amerika Serikat, Alaska Airlines, JetBlue), Belanda & Uni Eropa, Jepang, serta Inggris. Perusahaan utama produsen bioavtur (SAF) adalah Neste (Finlandia), World Energy (Amerika Serikat), TotalEnergies (Prancis), SkyNRG (Belanda), dan LanzaJet. Di Indonesia, Pertamina telah berhasil membuat bioavtur di kilang Cilacap sejak 2001, sebanyak 9.000 barel/hari dengan bahan baku minyak sawit (RBDPKO) dan minyak jelantah (UCO).

Scroll to Top
Buka WhatsApp
Butuh Bantuan?
Scan the code
care
Hello 👋
Apa yang bisa kami bantu?