Perkembangan Industri Elektronik di Indonesia (5 Tahun Terakhir)

Dalam lima tahun terakhir (2020–2025), industri elektronik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang dinamis dengan kombinasi tekanan global dan peluang domestik yang besar. Pada periode 2020–2021, pandemi COVID-19 sempat mengganggu aktivitas produksi akibat terbatasnya mobilitas tenaga kerja serta terganggunya rantai pasok global, terutama untuk komponen utama seperti semikonduktor. Namun, di sisi permintaan terjadi lonjakan signifikan karena meningkatnya kebutuhan perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas work from home, pembelajaran jarak jauh, serta percepatan digitalisasi. Produk seperti smartphone, laptop, televisi, dan peralatan rumah tangga mengalami peningkatan penjualan, sehingga membantu menahan kontraksi industri (kondisi di mana industri menurun / lesu / produksi turun) dan bahkan mendorong beberapa subsektor tetap tumbuh — Ekonomi tidak terlalu parah karena “ditahan” oleh elektronik.

Memasuki fase pemulihan pada 2022 hingga 2025, industri elektronik Indonesia mulai menunjukkan pertumbuhan yang lebih stabil dan terarah. Peningkatan daya beli masyarakat, ekspansi platform e-commerce, serta penetrasi internet yang semakin luas menjadi faktor utama pendorong permintaan. Dari sisi produksi, kebijakan pemerintah seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan insentif investasi mendorong produsen global maupun lokal untuk memperluas fasilitas manufaktur di Indonesia, khususnya di kawasan industri seperti Batam, Bekasi, dan Karawang. Indonesia juga mulai mendapat manfaat dari tren relokasi pabrik global (China+1 strategy) — Perusahaan global tidak lagi hanya bergantung pada produksi di China, tapi mulai memindahkan atau menambah pabrik ke negara lain (seperti Indonesia, Vietnam, India)– meskipun skalanya masih terbatas dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam. Dalam periode ini, industri tidak hanya berfokus pada perakitan akhir, tetapi mulai bergerak ke arah peningkatan nilai tambah, seperti produksi komponen tertentu, pengembangan desain produk, serta integrasi rantai pasok domestik, walaupun ketergantungan pada impor komponen inti masih cukup tinggi –karena komponen paling penting dan canggih masih sulit dibuat di Indonesia, seperti chip / semikonduktor, processor, serta sensor canggih.

Secara struktural, kontribusi industri elektronik terhadap sektor manufaktur juga semakin penting, terutama dalam kelompok industri alat listrik, komputer, dan barang elektronik. Selain pasar domestik yang besar, Indonesia juga memperkuat perannya sebagai basis produksi untuk ekspor regional, terutama dari Batam yang berorientasi ekspor. Di sisi lain, tantangan utama masih mencakup keterbatasan kemampuan riset dan pengembangan (R&D), belum berkembangnya industri semikonduktor dalam negeri, serta kebutuhan peningkatan kualitas tenaga kerja terampil. Ke depan, prospek industri elektronik Indonesia dinilai cukup positif, didorong oleh tren digitalisasi, pengembangan Internet of Things (IoT), serta keterkaitan dengan industri strategis lain seperti baterai dan kendaraan listrik. Dengan strategi hilirisasi yang konsisten dan peningkatan investasi teknologi, Indonesia berpotensi bertransformasi dari basis perakitan menjadi pemain yang lebih kuat dalam rantai nilai global industri elektronik.

Negara di dunia yang paling maju di industri elektronik:

Taiwan → paling maju di chip (semikonduktor)

Korea Selatan → kuat di memori & produk elektronik

Jepang → unggul di komponen presisi & mesin

Amerika → pusat inovasi & desain teknologi

China → dominan di produksi massal & supply chain

Scroll to Top
Buka WhatsApp
Butuh Bantuan?
Scan the code
care
Hello 👋
Apa yang bisa kami bantu?