Permintaan domestik terhadap bahan petrokimia seperti paraxylene dan benzene terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor industri hilir, khususnya di segmen tekstil, kemasan plastik, dan manufaktur. Paraxylene merupakan komoditas aromatik yang menjadi bahan baku utama produksi purified terephthalic acid (PTA), selanjutnya diproses menjadi resin PET dan serat poliester yang dipakai di botol plastik, film kemasan, serta tekstil. Sementara benzene dipakai sebagai bahan baku dalam produksi styrene, phenol, cyclohexane, dan berbagai senyawa kimia dasar yang penting bagi produk plastik dan material industri lainnya.
Menurut data konsumsi industri kimia di Indonesia, kebutuhan paraxylene terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan ekspansi di sektor tekstil dan PET. Total kebutuhan domestik mencapai lebih dari 1,6 juta ton per tahun, namun kapasitas produksi lokal belum sepenuhnya mencukupi sehingga masih bergantung pada pasokan impor dari luar negeri. Hal ini mendorong kerja sama dan program distribusi internal seperti yang dilakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga dan PT Ineos Aromatics Indonesia untuk memastikan persediaan paraxylene bagi pabrik-pabrik hilir dalam negeri. Skema seperti Vendor Held Stock (VHS) diluncurkan untuk meningkatkan kepastian suplai sekitar 170.000 ton produk per tahun, mendukung operasi pabrik domestik. Selain itu, laporan pasar menunjukkan tren pertumbuhan nilai pasar paraxylene di Indonesia, yang diperkirakan meningkat signifikan hingga akhir dekade ini seiring kenaikan konsumsi PET dan serat poliester di industri kemasan dan tekstil.
Permintaan benzene di Indonesia juga menunjukkan tren peningkatan sebagai akibat berkembangnya industri kimia dan manufaktur. Meskipun tidak ada rilis data terbaru yang sangat spesifik untuk tahun 2025, laporan pasar global dan studi akademik mencatat bahwa kebutuhan benzene dalam negeri meningkat setiap tahunnya sejalan dengan konsumsi di industri hilir seperti styrene dan fenol. Namun produksi lokal masih belum mencukupi, sehingga Indonesia tetap melakukan impor sejumlah bahan baku kimia ini. Laporan riset pasar memperkirakan pasar benzene di Indonesia akan terus tumbuh hingga 2030 dengan laju pertumbuhan tahunan (CAGR) yang sehat, didorong oleh ekspansi sektor petrokimia dan kebutuhan pada industri otomotif, konstruksi, serta produk konsumen berbasis plastik.
Permintaan kedua komoditas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain: pertumbuhan industri tekstil dan kemasan, yang menyerap paraxylene untuk produksi PET; ekspansi industri manufaktur yang menggunakan benzene untuk senyawa turunan seperti styrene; serta upaya pemerintah dan korporasi nasional untuk memperkuat rantai pasok lokal melalui kolaborasi dan penyediaan infrastruktur distribusi bahan baku.
Meski permintaan terus meningkat, tantangan masih ada dalam hal produksi dalam negeri dan ketergantungan impor, terutama untuk feedstock petrokimia yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh pabrik domestik. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian tengah mendorong pengembangan industri petrokimia sebagai proyek strategis nasional untuk menutup celah pasokan bahan baku. Dengan investasi yang berkelanjutan dan integrasi lebih kuat antara kilang minyak dan fasilitas petrokimia, Indonesia berharap dapat menekan ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah industri nasional di masa depan.
