Industri olefin Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan positif pada 2025, didorong oleh meningkatnya permintaan dalam negeri serta ekspansi kapasitas produksi dari beberapa perusahaan petrokimia besar. Olefin, meliputi ethylene, propylene, dan butadiene, menjadi fondasi utama bagi berbagai industri hilir, mulai dari plastik kemasan, otomotif, tekstil sintetis, hingga bahan bangunan.
Seiring bangkitnya sektor manufaktur dan konsumsi nasional, kebutuhan resin plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) mencatat kenaikan signifikan. Kedua material tersebut merupakan produk turunan langsung dari olefin. Pelaku industri mencatat permintaan PP dalam negeri tumbuh 5–7% pada 2025, terutama didorong sektor rigid packaging, furnitur plastik, dan komponen otomotif.
Peningkatan produksi olefin Indonesia dipengaruhi oleh ekspansi beberapa fasilitas petrokimia nasional. Kompleks petrokimia di Cilegon dan Tuban menjadi pusat peningkatan produksi, terutama untuk ethylene dan propylene. Di Cilegon, fasilitas olefin menerapkan teknologi cracker berbasis nafta yang lebih efisien, meningkatkan output hingga ratusan ribu ton per tahun. Sementara itu, proyek petrokimia baru di Jawa Timur juga mulai memberikan kontribusi awal pada pasokan olefin di paruh kedua 2025.
Pemerintah menargetkan Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor olefin yang selama ini mencapai jutaan ton per tahun. Dengan peningkatan kapasitas lokal, pelaku industri memperkirakan penurunan impor propylene dan ethylene hingga 10–15% pada 2025. Produsen kemasan dan plastik hilir menyambut baik langkah ini karena memberikan stabilitas pasokan dan harga yang lebih kompetitif.
Walau fokus utama industri olefin adalah pasar domestik, beberapa perusahaan mulai membuka kembali peluang ekspor untuk produk tertentu, terutama propylene dan butadiene, ketika pasokan domestik melimpah dan harga regional membaik. Namun kontribusi ekspor olefin masih relatif kecil dibanding kebutuhan lokal yang sangat besar.
Meski kinerja membaik, industri olefin Indonesia masih menghadapi tantangan berupa volatilitas harga nafta, bahan baku utama cracker. Fluktuasi harga minyak dunia pada 2024–2025 membuat biaya produksi tidak stabil. Selain itu, tingginya kapasitas produksi olefin di China dan Timur Tengah terus memberi tekanan harga di pasar Asia.
Dengan perkembangan beberapa proyek strategis nasional (PSN), Indonesia diprediksi memasuki fase baru industri petrokimia yang lebih terintegrasi. Ke depan, pemerintah menargetkan Indonesia tidak hanya menjadi produsen olefin, tetapi juga mengembangkan hilirisasi produk seperti PE, PP, EVA, dan butadiene derivatives untuk memperkuat industri manufaktur nasional. Berikut produsen olefin terbesar di Indonesia: Chandra Asri, Lotte Chemical Indonesia, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban, Pertamina Rosneft / Pertamina New Grass Root Refinery – NGRR Tuban, Pertamina RU IV/VI/V, PT Petrokimia Butadiene Indonesia (PBI) Cilegon. Olefin meliputi ethylene, propylene, dan butadiene, yang menjadi bahan baku utama plastik (PE, PP) dan industri kimia lainnya.
