Green solvents (pelarut ramah lingkungan) memang sedang sangat aktif dikembangkan saat ini di dunia kimia, farmasi, energi, dan industri manufaktur. Perkembangannya bahkan meningkat pesat dalam 10–15 tahun terakhir karena tekanan regulasi lingkungan, kebutuhan industri yang lebih berkelanjutan, dan tuntutan pengurangan emisi karbon. Ada beberapa alasan utama mengapa industri global beralih ke pelarut yang lebih ramah lingkungan:
- Banyak pelarut konvensional berbahaya, contohnya: benzene, toluene, chloroform, dan dichloromethane. Pelarut ini bisa: beracun, karsinogenik, mencemari air dan udara, serta sulit terurai di lingkungan.
- Regulasi global semakin ketat. beberapa regulasi penting: REACH Regulation (Uni Eropa), United States Environmental Protection Agency, program Green Chemistry Initiative.
- Industri ingin menurunkan jejak karbon. Banyak perusahaan kimia dan farmasi besar sekarang punya target: net-zero emission, circular economy, sustainable chemicals.
Contoh Green Solvents yang Sedang Dikembangkan
- Ionic Liquids adalah garam yang berbentuk cair pada suhu rendah. Kelebihan: hampir tidak menguap, tidak mudah terbakar, sangat stabil, dapat didesain khusus untuk reaksi tertentu. Dipakai untuk: katalisis kimia, baterai, pemisahan logam, dan proses farmasi.Deep Eutectic Solvents (DES)
- Deep Eutectic Solvents (DES) adalah campuran dua bahan sederhana yang membentuk cairan dengan titik leleh rendah. Contoh bahan: choline chloride, urea, asam organik. Kelebihan: biodegradable, murah, bisa dibuat dari bahan alami. Aplikasi: ekstraksi bahan herbal, pengolahan biomassa, dan metal recovery.
- Supercritical CO₂. Dalam kondisi tekanan dan suhu tinggi, CO₂ menjadi pelarut superkritis. Digunakan untuk: ekstraksi kopi tanpa kafein, minyak esensial, farmasi, dan kosmetik. Kelebihan: tidak beracun, mudah dipisahkan, dan tidak meninggalkan residu pelarut.
- Bio-based Solvents. Pelarut yang dibuat dari biomassa. Contoh: ethyl lactate, 2-methyltetrahydrofuran, glycerol derivatives. Sumber bahan: jagung, tebu, dan limbah pertanian. Dipakai dalam: farmasi, coating, tinta dan elektronik.
Industri yang Paling Aktif Mengembangkan Green Solvents: Farmasi, semikonduktor, baterai kendaraan listrik, pengolahan logam kritis, dan biorefinery. Perusahaan yang banyak meneliti: BASF, Dow, Solvay, dan GSK. Pengembangan green solvents (pelarut ramah lingkungan) saat ini dilakukan oleh banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Risetnya bersifat global karena berkaitan dengan green chemistry, energi bersih, farmasi, dan industri elektronik.
Negara yang Paling Aktif Mengembangkan Green Solvents
- Cina, salah satu pemimpin dunia dalam publikasi riset green solvent, terutama ionic liquids dan deep eutectic solvents (DES). Menyumbang lebih dari 30% publikasi global pada penelitian DES. Banyak riset dilakukan oleh Chinese Academy of Sciences. Fokus riset: ionic liquids untuk energi dan katalisis, ekstraksi logam, pemrosesan biomassa. China juga sudah mulai menerapkan teknologi ionic liquid dalam proses industri.
- Amerika Serikat, salah satu pusat green chemistry terbesar di dunia. Didukung oleh regulasi dan penelitian dari United States Environmental Protection Agency. Banyak perusahaan kimia besar mengembangkan bio-based solvents. Fokus riset: pelarut berbasis biomassa, pelarut untuk farmasi dan semikonduktor, reaksi kimia menggunakan air sebagai pelarut.
- Jerman, salah satu pemimpin industri kimia dunia. Riset kuat dalam: deep eutectic solvents dan supercritical CO₂ extraction. Banyak kolaborasi antara industri dan institusi riset seperti Fraunhofer Society dan BASF. Jerman juga menjalankan strategi bioeconomy nasional untuk mengganti pelarut berbasis minyak bumi.
- Inggris, salah satu pusat konsep green chemistry modern. Banyak penelitian di: ionic liquids, solvent-free synthesis, pelarut farmasi. Universitas penting: Imperial College London dan University of Nottingham.
- India, termasuk top 3 negara dengan publikasi green solvent. Banyak riset terkait: ekstraksi biomassa, pelarut murah berbasis DES, dan pemrosesan limbah industri.
- Malaysia, menariknya, Malaysia termasuk institusi riset paling berpengaruh dalam penelitian DES. Universitas seperti Universiti Malaya memiliki: tingkat sitasi sangat tinggi serta banyak publikasi terkait green solvent.
- Jepang, negara ini fokus pada aplikasi industri: elektronik, baterai, semikonduktor, dan material maju. Mereka mengembangkan pelarut ramah lingkungan untuk chip manufacturing dan lithium battery recycling.
Negara Eropa lain yang aktif selain Jerman dan Inggris adalah Prancis, Belanda, Spanyol dan Portugal. Negara-negara ini sangat aktif karena regulasi kimia di Uni Eropa seperti REACH Regulation yang membatasi pelarut berbahaya.
