Copper Global: Supply Makin Ketat di Tengah Lonjakan Kebutuhan AI, Elektrifikasi dan Infrastruktur Listrik

Copper kini memasuki fase strategis baru dalam rantai industri global. Jika sebelumnya pertumbuhan permintaan terutama dikaitkan dengan konstruksi, manufaktur, dan kelistrikan, kini kebutuhan copper semakin didorong oleh elektrifikasi, renewable energy, kendaraan listrik, jaringan transmisi, serta pembangunan data center untuk AI. S&P Global memperkirakan konsumsi copper global dapat meningkat dari sekitar 28,3 juta ton pada 2025 menjadi 42,4 juta ton pada 2040. Persoalannya, pertumbuhan pasokan tambang tidak bergerak secepat kebutuhan tersebut karena penurunan kadar bijih, usia tambang yang semakin tua, keterbatasan proyek baru, serta meningkatnya risiko operasional.

Titik persoalan copper saat ini justru semakin bergeser ke hulu, khususnya copper concentrate. Copper ore yang ditambang harus terlebih dahulu melalui proses beneficiation untuk menghasilkan concentrate sebelum dilebur menjadi copper anode dan kemudian dimurnikan menjadi copper cathode. Ketatnya pasokan concentrate membuat industri smelter global menghadapi kondisi yang tidak biasa: kapasitas smelter terus bertambah, tetapi bahan baku yang tersedia tidak mencukupi. Di China, yang menguasai sekitar 40% kapasitas smelting dunia, pertumbuhan produksi refined copper pada 2026 diperkirakan hanya sekitar 3–3,4%, terendah setidaknya sejak 2000, akibat keterbatasan concentrate dan scrap. Bahkan pada Agustus 2026, treatment and refining charges (TC/RC), biaya yang biasanya dibayarkan miner kepada smelter, telah jatuh ke level negatif yang sangat dalam, mencerminkan betapa ketatnya pasar concentrate (TR/RC <0)

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan penting dalam economics industri copper. Masalahnya bukan lagi sekadar apakah dunia memiliki kapasitas smelter yang cukup, tetapi apakah tersedia cukup copper concentrate untuk menjalankan smelter tersebut. China bahkan baru-baru ini meminta Anglo American (perusahaan tambang multinasional besar asal Inggris) memberikan komitmen pasokan copper concentrate ke China sebagai bagian dari proses persetujuan merger dengan Teck Resources. Langkah tersebut menunjukkan semakin strategisnya akses terhadap concentrate bagi negara dengan industri refining besar. China saat ini memproses sekitar 60% copper cathode dunia, sementara smelter domestiknya menghadapi kekurangan feedstock.

Di sisi tambang, gangguan produksi memperketat kondisi tersebut. Beberapa produsen besar mengalami gangguan operasional, sementara Grasberg di Indonesia menjadi salah satu supply shock paling signifikan. Grasberg merupakan tambang copper terbesar kedua di dunia dan pada 2024 menghasilkan sekitar 815 ribu ton copper, setara sekitar 4% produksi global. Pada September 2025, insiden mud flow (longsor) di Grasberg Block Cave menghentikan operasi utama dan menyebabkan Freeport menyatakan force majeure. Dampaknya tidak berhenti pada produksi tambang: berkurangnya ore menyebabkan produksi copper concentrate PTFI (PT Freeport Indonesia) turun, sehingga pasokan feedstock untuk fasilitas smelting di Indonesia ikut terbatas.

Hingga Oktober 2026, Grasberg memang sudah memasuki tahap pemulihan, tetapi belum kembali ke kapasitas normal. Freeport pada 2 Oktober 2026 menyatakan ramp-up berjalan sesuai rencana, dengan target mencapai sekitar 80% kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027. Recovery juga menghadapi tantangan berupa kondisi ore yang lebih basah dari perkiraan, sehingga sistem material handling perlu dimodifikasi untuk meningkatkan keselamatan dan mencegah terulangnya gangguan. Dengan demikian, Grasberg bukan lagi sekadar isu kecelakaan tambang 2025, tetapi masih menjadi faktor yang memengaruhi outlook supply copper hingga 2027.

Dampaknya terasa langsung di rantai industri copper Indonesia. Setelah concentrate dari Grasberg berkurang, operasi fasilitas smelting domestik harus menyesuaikan ketersediaan feedstock. Freeport menyatakan operasi smelting di Indonesia terdampak keterbatasan concentrate setelah insiden September 2025, sementara PT Smelting di Gresik baru kembali beroperasi pada akhir Desember 2025 dan pengiriman concentrate ke smelter baru diperkirakan kembali secara bertahap pada paruh kedua 2026. Kondisi ini memperlihatkan paradoks hilirisasi copper Indonesia: kapasitas pemrosesan domestik sedang diperbesar, tetapi ketersediaan bahan baku dari tambang justru menjadi constraint.

Pada saat yang sama, pasar copper menghadapi tekanan permintaan jangka panjang yang semakin kuat. AI dan data center menciptakan demand driver baru yang bersifat copper-intensive. Data center membutuhkan bukan hanya kabel internal, tetapi juga transformer, switchgear, power distribution, backup power, dan koneksi jaringan listrik. Ketika pembangunan data center meningkat, kebutuhan listrik dan transmisi ikut meningkat sehingga menciptakan tambahan permintaan copper di luar kebutuhan tradisional dari konstruksi dan manufaktur. World Bank juga mengidentifikasi investasi pada elektrifikasi, data center, dan transportasi sebagai faktor yang menopang pertumbuhan permintaan copper ke depan.

Akumulasi antara mine disruptions, keterbatasan copper concentrate, rendahnya TC/RC, ekspansi smelter yang lebih cepat daripada pertumbuhan feedstock, serta pertumbuhan demand dari AI dan elektrifikasi telah mendorong copper ke level harga yang sangat tinggi. Pada September 2026, harga copper LME (London Metal Exchange) bahkan mencapai sekitar US$14.500/ton, sementara produksi tambang global pada semester pertama 2026 dilaporkan turun sekitar 1,1% dan produksi concentrate turun sekitar 2,6%.

Dengan demikian, isu copper saat ini bukan sekadar “harga copper sedang mahal”, melainkan persoalan struktural mengenai kemampuan dunia menyediakan cukup metal untuk mendukung elektrifikasi dan digitalisasi. Dalam jangka pendek, pemulihan Grasberg dan beberapa tambang besar lainnya dapat membantu meredakan tekanan supply. Namun dalam jangka lebih panjang, tantangannya jauh lebih fundamental: proyek tambang baru membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara kebutuhan copper dari grid listrik, renewable energy, EV, dan AI terus bertambah. Gangguan Grasberg menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam supply tembaga global. Di sisi lain, pengembangan smelter memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga meningkatkan pengolahan tembaga di dalam negeri.

Scroll to Top