Hilirisasi rumput laut semakin strategis dalam pengembangan industri kelautan Indonesia karena posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar dunia belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Produksi rumput laut nasional mencapai sekitar 9,8 juta ton pada 2024, menempatkan Indonesia sebagai produsen terbesar kedua dunia. Namun, pengembangan industri ke depan tidak lagi cukup bertumpu pada peningkatan volume budidaya, melainkan perlu diarahkan pada penguatan pengolahan dan diversifikasi produk turunannya. KKP saat ini secara khusus mendorong peningkatan produktivitas sekaligus investasi pengolahan, termasuk untuk Gracilaria, yang menyumbang sekitar 16,5% produksi di 15 provinsi produsen utama.
Peluang hilirisasi terbuka luas karena rumput laut dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, mulai dari agar-agar dan karaginan hingga bahan baku pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik dan berbagai aplikasi industri. Program pengembangan KKP periode 2025–2029 juga menempatkan Eucheuma cottonii sebagai salah satu komoditas prioritas karena memiliki harga relatif lebih tinggi, produk turunan yang beragam, serta pasar yang masih terbuka. Di sisi lain, pengembangan Gracilaria memberikan peluang tambahan karena karakteristiknya sesuai untuk produksi agar dan dapat dikembangkan melalui integrasi budidaya, pascapanen, hingga pengolahan.
Dari perspektif perdagangan, momentum hilirisasi semakin menarik karena produk olahan Indonesia mulai memperoleh akses pasar yang lebih menguntungkan. Pada Januari–Oktober 2025, ekspor rumput laut Indonesia mencapai US$264,6 juta, terdiri atas rumput laut kering US$144,7 juta, karaginan US$93,3 juta dan agar-agar US$15,6 juta. China masih menjadi pasar utama dengan pangsa 69,4%, sehingga diversifikasi pasar menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu tujuan ekspor. Pada Agustus 2026, rumput laut dan agar-agar Indonesia juga memperoleh pengecualian dari tambahan tarif Section 301 Amerika Serikat dan hanya dikenakan tarif MFN 0%, memberikan ruang untuk memperluas pasar produk olahan Indonesia.
Tantangan utama hilirisasi bukan terletak pada ketersediaan bahan baku semata, tetapi pada konsistensi kualitas, produktivitas budidaya, fasilitas pengeringan dan pascapanen, kapasitas industri pengolahan, teknologi ekstraksi, serta kemampuan menghasilkan produk dengan spesifikasi yang sesuai kebutuhan industri global. Karena itu, pengembangan industri rumput laut perlu membangun rantai nilai yang terintegrasi dari bibit dan budidaya, pengumpulan serta pengeringan, pengolahan primer, hingga manufaktur produk turunan. Dengan pendekatan tersebut, hilirisasi rumput laut berpotensi menggeser struktur industri Indonesia dari eksportir bahan baku menuju produsen bahan antara dan produk olahan bernilai tambah, sekaligus memperluas multiplier effect bagi pembudidaya, industri pengolahan dan ekonomi masyarakat pesisir. KKP sendiri pada 2026 menekankan penguatan produksi, pascapanen dan investasi pengolahan sebagai bagian dari pengembangan Gracilaria.
