Indonesia kembali mendorong percepatan pengembangan energi panas bumi pada 2026 di tengah besarnya potensi domestik yang masih belum termanfaatkan. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dipaparkan dalam The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026, Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,2 GW, sementara kapasitas terpasang baru mencapai 2.776,39 MW atau sekitar 11,6% dari total potensi tersebut. Artinya, sekitar 88,4% potensi panas bumi nasional masih belum dikembangkan, menunjukkan ruang pertumbuhan yang sangat besar bagi investasi pembangkitan energi terbarukan di Indonesia.
Pada 2026, fokus pemerintah mulai semakin bergeser dari sekadar eksplorasi menuju percepatan realisasi proyek. Pemerintah menilai lambatnya pengembangan geothermal selama ini berkaitan dengan kompleksitas regulasi, proses perizinan, risiko eksplorasi serta keekonomian proyek. Dalam IIGCE 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan perlunya penyederhanaan regulasi dan pemberian insentif untuk mempercepat investasi, sekaligus meminta pemegang konsesi agar segera merealisasikan wilayah kerja yang telah diberikan. Pemerintah juga menyiapkan 12 wilayah panas bumi untuk ditawarkan pada 2026, yang berpotensi membuka peluang investasi baru dalam sektor geothermal.
Momentum pengembangan tersebut juga terlihat dari pipeline proyek dan investasi baru. Salah satu contohnya adalah rencana pengembangan kembali PLTP Sarulla di Sumatera Utara, di mana pemerintah menyiapkan investasi sekitar US$270 juta untuk mengoptimalkan kembali kapasitas terpasang 330 MW, dengan target peningkatan operasi pada 2027–2028. Di sisi lain, Futura Energi Global membidik pengembangan proyek geothermal Baturaden, Jawa Tengah, dengan tahap awal sekitar 30 MW dan rencana investasi mencapai US$120 juta. Perkembangan ini menunjukkan bahwa peluang geothermal tidak hanya berada pada perusahaan utilitas besar, tetapi mulai menarik minat investor dan pengembang baru.
Isu yang juga semakin penting adalah perluasan pemanfaatan geothermal di luar pembangkitan listrik (beyond electricity). Pemerintah mulai mendorong panas bumi untuk dimanfaatkan secara langsung oleh sektor industri dan pertanian, misalnya untuk proses pengeringan hasil pertanian. Pendekatan ini dapat membuka model bisnis baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya panas bumi di daerah. Dengan karakteristiknya sebagai energi terbarukan yang mampu menyediakan baseload 24 jam, geothermal diposisikan sebagai salah satu sumber energi yang dapat melengkapi pembangkit intermiten seperti surya dan angin dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Namun, besarnya potensi belum otomatis menjamin percepatan pengembangan. Peristiwa terbaru terkait rencana pengembangan Gunung Ungaran menunjukkan bahwa proyek geothermal masih harus melalui tahapan eksplorasi, studi kelayakan, kajian teknis, lingkungan, perizinan, serta konsultasi sosial secara bertahap. Pemerintah pada 2 September 2026 menegaskan bahwa pengembangan kawasan tersebut harus mempertimbangkan aspek keselamatan, lingkungan dan pelestarian kawasan cagar budaya seperti Candi Gedong Songo. Hal ini memperlihatkan bahwa tantangan geothermal Indonesia ke depan bukan hanya soal investasi dan teknologi, tetapi juga social acceptance, environmental permitting, dan kecepatan eksekusi proyek.
Tabel – 1. Daftar Geothermal yang Sudah Beroperasi Secara Komersial di Indonesia
| PLTP / Lapangan | Lokasi | Pengembang/Operator | Kapasitas ± |
| Kamojang | Jawa Barat | Pertamina Geothermal Energy | 235 MW |
| Salak | Jawa Barat | Star Energy Geothermal | 403 MW |
| Darajat | Jawa Barat | Star Energy Geothermal | 217 MW listrik + 55 MW PLN |
| Wayang Windu | Jawa Barat | Star Energy Geothermal | 252 MW |
| Dieng Unit 1 | Jawa Tengah | Geo Dipa Energi | 60 MW |
| Patuha Unit 1 | Jawa Barat | Geo Dipa Energi | 60 MW |
| Ulubelu | Lampung | Pertamina Geothermal Energy | 220 MW |
| Lahendong | Sulawesi Utara | Pertamina Geothermal Energy | 120 MW |
| Lumut Balai Unit 1–2 | Sumatera Selatan | Pertamina Geothermal Energy | 110 MW |
| Karaha | Jawa Barat | Pertamina Geothermal Energy | 30 MW |
| Sibayak | Sumatera Utara | Pertamina Geothermal Energy | 12 MW |
| Sarulla | Sumatera Utara | Sarulla Operations | 330 MW |
Catatan: angka antar-sumber dapat sedikit berbeda karena ada yang menggunakan gross installed capacity, kapasitas listrik bersih, atau menghitung kapasitas uap yang dijual. Misalnya Star Energy saat ini melaporkan Salak 403,2 MW, Wayang Windu 252 MW, dan Darajat 217 MW listrik plus 55 MW pembangkit PLN yang menggunakan steam dari lapangan tersebut.
Table – 2. Daftar Geothermal yang Sedang Dibangun / Sudah Masuk Pipeline
| Proyek | Lokasi | Kapasitas | Target / Status 2026 |
| Dieng Unit 2 | Jawa Tengah | 55 MW | Konstruksi, target COD 2028 |
| Patuha Unit 2 | Jawa Barat | 55 MW | Konstruksi/pengembangan |
| Patuha Unit 3 | Jawa Barat | 55 MW | Rencana |
| Dieng Unit 3 | Jawa Tengah | 55 MW | Rencana |
| Ulubelu Binary Unit | Lampung | 30 MW | Development, target COD 2027 |
| Kamojang Low Pressure | Jawa Barat | 5 MW | Development |
| Lahendong Binary Unit 1 | Sulawesi Utara | 15 MW | Development |
| Lumut Balai Binary Unit 1 | Sumatera Selatan | 10 MW | Rencana |
| Sibayak Binary | Sumatera Utara | 5 MW | Rencana |
| Hululais Unit 1–2 | Bengkulu | 110 MW | Pengembangan |
Table – 3. Daftar Geothermal yang Sedang Dieksplor / Berpontensi Menjadi Wilayah Baru
| Wilayah/Prospek | Provinsi | Status sekitar 2026 | Keterangan |
| Telaga Ranu | Maluku Utara | WKP baru | Pemenang lelang: PT Ormat Geothermal Indonesia |
| Wae Sano | NTT | Government Drilling | De-risking resource (Memastikan bahwa sumber daya panas bumi benar-benar cukup, layak, dan bisa menghasilkan listrik sebelum investor mengeluarkan investasi besar) |
| Jailolo | Maluku Utara | Government Drilling | |
| Candi Umbul–Telomoyo | Jawa Tengah | Government Drilling | |
| Arjuno–Welirang | Jawa Timur | Government Drilling |
