Indonesia mulai memasuki fase baru dalam pengembangan energi terbarukan. Jika sebelumnya fokus utama berada pada pembangunan PLTS, PLTA, panas bumi, dan pembangkit energi terbarukan lainnya, kini perhatian bergeser pada bagaimana listrik dari sumber yang bersifat intermiten dapat disimpan dan digunakan ketika dibutuhkan. Battery Energy Storage System (BESS) menjadi salah satu solusi penting karena dapat menyimpan listrik saat pasokan berlebih dan melepaskannya ketika permintaan meningkat. Pada PLTS, misalnya, BESS memungkinkan listrik yang dihasilkan pada siang hari disimpan dan digunakan pada sore atau malam hari. Karena itu, BESS mulai berkembang dari sekadar perangkat pendukung PLTS menjadi infrastruktur strategis untuk menjaga fleksibilitas dan keandalan sistem kelistrikan. Arah tersebut tercermin dalam RUPTL PLN 2025–2034 yang memasukkan energy storage sebagai bagian penting dari pengembangan sistem kelistrikan berbasis energi terbarukan.
Peluang pasar BESS Indonesia semakin besar dengan ambisi pemerintah mempercepat pembangunan PLTS. Salah satu rencana yang paling signifikan adalah program 100 GW PLTS yang dikombinasikan dengan sekitar 320 GWh BESS, termasuk pengembangan PLTS terdistribusi di puluhan ribu desa. Jika terealisasi, skala tersebut akan mengubah BESS dari teknologi niche menjadi industri energi berskala nasional. Di sisi lain, RUPTL juga memberikan ruang bagi pengembangan storage dalam skala utility. Sejumlah proyek PLTS+BESS mulai direalisasikan, termasuk proyek PLTS di Sumenep yang dilengkapi BESS 4 MWh untuk mendukung akses listrik bersih di wilayah dengan tantangan sistem kelistrikan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa penggunaan BESS Indonesia mulai bergerak dari tahap pilot project menuju integrasi nyata dengan sistem pembangkitan dan jaringan listrik.
Namun, pembangunan BESS sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar memproduksi baterai. Satu sistem BESS membutuhkan battery cell, module dan pack, Battery Management System (BMS), Power Conversion System (PCS), Energy Management System (EMS), thermal management, fire protection, transformer, switchgear, monitoring system, hingga EPC dan O&M. Hal ini membuka peluang terbentuknya ekosistem industri baru di Indonesia. Produsen baterai dapat memperluas bisnis dari EV battery menuju stationary storage, sementara perusahaan electrical equipment, automation, software, HVAC, fire protection, container fabrication, EPC, dan maintenance dapat mengambil bagian dalam rantai nilai tersebut. Dengan demikian, pertumbuhan BESS berpotensi menciptakan efek berganda ke berbagai industri manufaktur dan jasa, bukan hanya meningkatkan permintaan terhadap battery cell.
Dari sisi teknologi, Lithium Iron Phosphate (LFP) berpotensi menjadi salah satu teknologi utama untuk stationary storage karena memiliki karakteristik cycle life dan thermal stability yang menarik untuk aplikasi penyimpanan energi. Namun, hal ini sekaligus menunjukkan bahwa keunggulan Indonesia dalam industri nikel tidak otomatis menjadikan Indonesia unggul dalam BESS. Berbeda dengan beberapa teknologi baterai kendaraan listrik, LFP tidak menggunakan nickel sebagai material katoda utama. Oleh karena itu, agar dapat membangun industri BESS yang kompetitif, Indonesia perlu mengembangkan kemampuan yang lebih luas, mulai dari cell dan pack manufacturing hingga power electronics, PCS, EMS, system integration, thermal management, dan safety technology. Dalam jangka panjang, peluangnya adalah membentuk rantai nilai dari battery materials → cell → module → pack → BESS → system integration → EPC → O&M → recycling.
Tantangan berikutnya adalah ekonomi BESS. Baterai tidak hanya menghasilkan nilai dengan menyimpan listrik, tetapi dapat menyediakan berbagai layanan seperti peak shaving, renewable-energy firming, frequency regulation, ancillary services, backup power, dan pengurangan penggunaan diesel di sistem terpencil. Persoalannya adalah menentukan siapa yang membayar layanan tersebut dan bagaimana revenue BESS dihitung. Jika BESS hanya dipandang sebagai fasilitas penyimpanan, keekonomiannya dapat terlihat kurang menarik karena biaya investasinya masih tinggi. Sebaliknya, jika BESS diposisikan sebagai grid asset yang menyediakan berbagai layanan kepada sistem kelistrikan, nilai ekonominya menjadi lebih besar. Karena itu, keberhasilan pasar BESS Indonesia sangat bergantung pada munculnya model bisnis yang mampu memberikan revenue stream yang jelas bagi investor.
Regulasi dan kesiapan jaringan menjadi bottleneck penting lainnya. Ketika penggunaan BESS meningkat, Indonesia perlu memperjelas bagaimana storage dikategorikan dalam sistem ketenagalistrikan, siapa yang dapat memiliki dan mengoperasikannya, bagaimana listrik yang masuk dan keluar dari baterai dihitung, bagaimana ancillary services dihargai, serta bagaimana risiko battery degradation dialokasikan. Tantangan tersebut semakin kompleks untuk program storage terdistribusi karena membutuhkan koordinasi ribuan hingga puluhan ribu unit. Selain itu, penetrasi energi terbarukan yang tinggi membutuhkan investasi pada transmission, distribution, smart grid, forecasting, dan digital energy management. Dengan demikian, BESS tidak dapat dikembangkan secara terpisah dari modernisasi jaringan listrik nasional.
Di luar PLN, pasar BESS juga berpotensi berkembang di kawasan industri, data center, commercial & industrial facilities, microgrid, pulau-pulau terpencil, serta proyek renewable-plus-storage. Industri dengan kebutuhan listrik tinggi dapat menggunakan BESS untuk peak shaving dan backup, sementara daerah terpencil dapat mengombinasikan PLTS dan BESS untuk mengurangi ketergantungan terhadap diesel. Pertumbuhan data center juga berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap sistem penyimpanan dan backup power yang lebih fleksibel. Dengan berbagai segmen tersebut, pasar BESS Indonesia dapat berkembang menjadi beberapa kategori sekaligus: utility-scale BESS, renewable-plus-storage, commercial & industrial BESS, microgrid, dan critical-power applications.
Pada akhirnya, pembangunan ekosistem BESS Indonesia merupakan peluang industrialisasi yang lebih besar daripada sekadar pembangunan fasilitas baterai. Jika Indonesia mampu menggabungkan kekuatan yang sudah dimiliki dalam mineral dan battery manufacturing dengan kemampuan baru di bidang power electronics, EMS, EPC, grid technology, safety, dan recycling, BESS dapat berkembang menjadi industri strategis baru di luar ekosistem kendaraan listrik. Namun, target kapasitas yang besar tidak otomatis menjamin keberhasilan. Pembiayaan, kesiapan jaringan, regulasi, standardisasi, safety, supply chain, dan model bisnis akan menentukan apakah ambisi BESS dapat diterjemahkan menjadi proyek komersial yang berkelanjutan. Dengan semakin besarnya penetrasi energi terbarukan dan meningkatnya kebutuhan listrik dari industri seperti data center dan kawasan industri, pertanyaan bagi Indonesia kini bukan lagi apakah BESS dibutuhkan, tetapi seberapa cepat Indonesia mampu membangun ekosistem BESS yang kompetitif, aman, dan dapat beroperasi secara ekonomis dalam skala nasional.
Ingin memahami lebih dalam peluang dan perkembangan Battery Energy Storage System (BESS) di Indonesia? Simak Bizteka edisi Oktober 2026 yang akan mengupas industri BESS secara mendalam, mulai dari perkembangan pasar, tren teknologi, peluang investasi, hingga prospek pertumbuhannya di Indonesia.
