Produsen POLIVINIL KLORIDA Semakin Melirik Pasar Ekspor

Besarnya  pemakaian bahan kimia Polivinil klorida (PVC) di dunia, mendorong produsen  kimia polivinil klorida (PVC) di Indonesia semakin melirik pasar ekspor. Bahkan negara seperti  Malaysia, China, Singapura, Vietnam, Philipina, Australia telah menjadi tujuan ekspor terbesar akan produk polivinil klorida (PVC) Indonesia.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik (Inaplas) Budi Susanto Sadiman,  mengatakan permintaan terhadap bahan kimia Polivinil Klorida (PVC) terutama dikawasan Asean, Australia dan Asia cukup tinggi, sehingga peluang ini  dimanfaatkan benar oleh para pengusaha.

Produsen dalam negeri yakni PT Asahimas Chemical (Asahimas), setiap tahunnya mengekspor bahan kimia polivinil klorida (PVC) dalam jumlah cukup besar. Bahkan untuk memenuhi permintaan yang cukup tinggi baik dipasar lokal maupun ekspor, perusahaan  menambah kapasitas produksi polivinil klorida (PVC) dari 300.000 MT menjadi 550.000 MT, Monomer Vinil Klorida (VCM) dari 400.000 MT menjadi 800.000 MT dan  Soda Kostik dari 500.000 metrik ton (MT) menjadi 700.000 MT.

Polivinil klorida di Indonesia telah berkembang cukup lama. Bahkan perusahaan yang ada saat ini merupakan bertaraf international, karena saham dimiliki oleh perusahaan dunia mereka antara lain, PT Asahimas Subentra Chemical dengan kapasitas produksi sebesar 550.000 ton per tahun, PT. Standard Toyo Polymer kapasitas produksi sebesar 176.000 ton per tahun, PT. Satomo Indovyl Polymer sebesar 70.000 ton per tahun, dan PT. Eastern (Mitsubishi) Polymer dengan kapasitas produksi sebesar 36.000 ton per tahun.

Ekspor

Selama ini bahan kimia polivinil klorida telah lama diproduksi didalam negeri, oleh karenanya  tidak heran  bila produsen   ditanah air selain memasarkan produknya kepasar lokal juga mengeskpor keluar negeri.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor polivinil klorida lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Pada tahun 2013 lalu ekspor polivinil klorida baru  tercatat sebesar 92.396 ton senilai US$ 97.727 ribu, kemudian pada tahun 2014 meningkat menjadi  sebesar 112.885 ton senilai US$ 122.738 ribu.

Pada tahun 2015 ekspor   kembali naik menjadi 117.196 ton  senilai US$ 103.567 ribu. Bahkan  pada tahun 2016 ekspor mengalami lonjakan cukup tajam menjadi sebesar 226.172  ton senilai US$ 185.315 ribu. Sementara di tahun 2017 lalu, ekspor naik kembali menjadi sebesar 241.074 ton  senilai US$ 209.523 ribu. Pada tahun 2018 selama Januari hingga Agustus ekspor sudah tercatat sebesar 184.005 ton senilai US$ 164.824 ribu… (selengkapnya Bizteka November 2018)

Prospek Industri Semen di Indonesia

Related posts